
Terinspirasi
dari Cerpen “Bertopeng” karya Antohn Chekov;
Penulis
naskah: Ruli & Dian W.N;
Pengubah Alur Cerita: Dinda Lasri Winarsih
Tema
: Sosial Politik
Pemain Drama Musikal :
Narator : Dinda Lasri
Winarsih,
Ratu (R) : Izza Aisyah Afifah,
Menteri (M) :
Fitrah Amalia Ramadhanti,
Pengemis (RM) : Fadli Haikal Adzani,
Artis (A) :
Arbi Satria Utama,
Penjudi (P),(T) : Muhammad Iqbal
Hattami,
Hakim (H) : Hasbi
Hassadiqin,
Petani (PT) :
Isti Komalia,
Petani (BT) : Milda Putri Dinanty,
Dosen (D) : Fitri Niarsari,
Manusia bayangan (MB) :
Rani Aprillia.
__________________________________________________________________
Suasana
menggambarkan kegelapan di malam hari. Di tengah terdapat tiang bendera, meja
kecil dan kursi-kursi, sekelilingnya dipenuhi tempelan-tempelan topeng kertas.
Babak
I
Musik pengantar : ♪ ~
♫~ ♪ ~ ♫~ ♪ ~ ♫~♪ ~ ♫~♪ ~ ♫~♪ ~ ♫~♪ ~ ♫
(Semua Pemeran Drama memasuki ruangan,
dengan Manusia Bayangan datang paling akhir sambil membawa lilin kemudian menyapa
penonton dan saling memperkenalkan diri masing - masing.)
MB : Selamat(….). Maaf, jika
pertemuan ini mungkin tidak saudara terima dengan hangat. Seharusnya saya sudah
sejak lama hidup di benak saudara. Membisiki abu-abu hidup ini. Hidup … (diam
sejenak seperti menghela nafas). Yang namanya abu, tentu…tidak melulu hitam
atau melulu putih. Hitam… putih… hi…hi…(tertawa ngikik) Tapi, sepertinya
tenggorokan saya sedang manja. Jadi harap mata dan hati saudara melek untuk
melihat satu persatu abu - abu ini.
Babak
II
(Semua
pemain keluar kecuali yang mepunyai adegan)
Seorang
Ratu (R) dan seorang Menterinya (M) Datang…
Musik
pengantar : ♪ ~ ♫~ ♪ ~ ♫~ ♪ ~ ♫~♪ ~ ♫~♪ ~ ♫~♪ ~ ♫~♪ ~ ♫
R :
(menyapa penonton dengan bahasa yang medok namun sedikit judes) Selamat malam
rakyatku semua… sudah pada tahu kan? Jika negeri kita yang cantik ini, yang
luas ini, yang gemah ripah bin jinawi, sebentar lagi akan merayakan ulang tahun
… (menoleh ke menteri)
M : Dengan ini
Ratu akan menyiapkan pesta yang sebesar-besarnya. Ratu akan mengundang semua
pemimpin-pemimpin serta artis terkenal,
agar mereka tahu, kalau negeri kita ini bisa buat pesta yang sangat meriah
melebihi mereka! (berhenti sejenak) Tapi… tunggu Ratu…(Sedikit kebingungan).
R : Apa ?!!
Saya tidak mau mendengar ada masalah ! jikalau ada segera selesai-kan secepat
mungkin tanpa menimbulkan perdebatan !
M : (membuka-buka
buku kas) ehm… saya tenang kok Ratu, saya hanya berpikir sejenak. Kas kita
masih banyak untuk menyelenggarakan pesta. Tambang minyak di pulau Bekas Jiwa,
tembaga di pulau Paru Sesak, emas di pulau Goa Ketan, terus…(Keburu distop
ratu).
R : cukup…cukup…cukup.
ya, ya..kalau begitu, menteri, segera siapkan pestanya…
M : Baik Ratu,
pesta akan segera disiapkan dalam 3 hari tanpa henti.
Tiba-tiba
dari belakang keduanya, tampak Pengemis (RM)
menurunkan bendera kerajaan. Lalu dengan sigap ia memasukkannya kedalam tas.
Kemudian tampak berjalan terburu-buru sehingga lewat di depan Ratu dan Menteri
tanpa permisi dan merunduk.
R :
e…e…eh…tidak sopan! Lewat di depan ratunya kok main selonong aja! Berhenti
kamu!
M : Berhenti
kamu Pengemis ! Rakyat Jelata! STOOOP !!!
.... (Menunjuk pengemis)
RM : Stop Kau
mencuriii hatikuu hatikuuuu…. (menoleh) saya?
R : Iya
kamu! (memperhatikan tas) bawa apa itu?
RM : Oh,
bukan apa-apa Ratu! Saya hanya…(menyembunyikan tas di balik punggung) Saya
ingin pulang Ratu, permisi…(merunduk)
R :
Menteri, periksa orang itu!
M : Baik Ratu.
Hei ! kemari kau pngemis ! (Mengejar pengemis.)
Terjadi perebutan tas antara
menteri dan Rakyat Miskin itu. Tetapi menteri berhasil merebut tas pengemis.
Sampai-sampai pengemis jatuh tersungkur.
M : Ratu,
ini Ratu…ternyata dia mencuri bisa dikatakan nyolong bendera kerajaan, Ratu!
R :
lho…lho…nyolong bendera?! lah kok bisa gak ketahuan ini gimana ? Memangnya apa
kerja para budak penjaga itu sih ? mau kamu buat apa bendera yang kamu curi?
(mendekati pengemis)
RM : lapar…saya lapar…
itu…mau saya jual…lima ribu jadi… susah hidup di negeri ini. Saya hidup selama
bertahun tahun SENDIRIAN (bersenandung) Makan makan sendiri, Tidur tidur
sendiri makan tidur makan tidur makan tiduuur pun sen…diri (berkelakuan seperti
bermain gitar)
R :
Whaaat ? bruuh ! Dijual?! Oh…rakyatku…(bernada kasihan) kamu lapar?
RM : (Pengemis mengangguk)
iya, saya lapar Ratu. Saya ingin membeli makanan …
R :
oh…lapar…tetapi bendera itu jangan kamu jual, karena itu adalah bendera negeri
ini. Sekarang kamu pulang ke rumah, biar nanti kusuruh orang mengantar makanan
ke tempatmu.
RM : Thanks Ratu
.(pergi meninggalkan panggung)
(Manusia
Bayangan muncul memapah pengemis.)
(music pengiring) : ♪ ~ ♫~ ♪ ~ ♫~ ♪ ~ ♫~♪ ~
♫~♪ ~ ♫~♪ ~ ♫~♪ ~ ♫
(Ratu
dan menteri maju ke tengah panggung bercakap- cakap.)
MB : Seperti ini sosok sejati
dari bangsa yang kaya? (bernada sinis) bahkan seandainya burung hantupun tak
sudi menjamahnya.
R :
(berbicara pada menteri) minta makan ??!Tak sudi saya mengantar makanan itu
kerumahnya, alamat rumah pun tak saya tanya hahaha. Uang saja tidak punya ,
hari ini masih gratisan…huh! menteri kita kembali saja ke kerajaan.
(meninggalkan panggung)
M : Tentu Ratu,
seharusnya pengemis itu menjadi budak pabrik kita ! Agar KITA bisa bertambah
makmur nan kaya raya lebih dari ini. Mereka seharusnya bersyukur kepada kita.
KITA… Orang terkemuka di negeri ini. Tapi apalah daya, Ratu terlalu BAIK HATI.
Babak
III
Musik pengantar; ♪ ~ ♫~ ♪ ~ ♫~ ♪ ~ ♫~♪ ~ ♫~♪ ~ ♫~♪ ~ ♫~♪ ~
♫
(Artis
(A) muncul dengan gaya seleb dan tebar pesona.)
A : Ini
sih, memang bukan panggung Hollywood! Tapi, tak apalah ini cukup memuaskan
sekaligus menyedihkan … baiklah , sini-sini… siapa yang mau minta tanda tangan
artis ganteng kayak saya ? Mau foto-foto sama saya ? kemari- kemari… Dekati
diriku…
Semua pemeran mengerumuni Artis kecuali pemeran artis.
Semua :
(Rany)
Orang tua kakak tajir ya ? (Hasbi) Kakak udah punya pacar ? (Iqbal) atau
kakak jomblo ? (Fadli) kakak kan ganteng , masa jomblo ? (Fitrah)Kakak
gajinya berapa ? (Milda)kakak
gak berniat masuk ke politik ? (Esa) iya, Politik itu keren lo ! (Fitri) Korupsi 2 milyar aja Cuma masuk 2 bulan penjara. (jawab
satu persatu oleh Artis) (Isti) Pertanyaan terakhir, bagaimana kehidupan kakak selama
ini?
(Artis
masih tetap ceria, tetapi kemudian artis mulai curhat)
A : Hidupku
ini sungguh menyenangkan saudara sekalian. Shooting sana-sini…ikut pesta
ini-itu… shopping kemana-mana…Pfff (menghela nafas) tapi…, ehm… mungkin tak
sampai lima puluh tahun, saya akan tetap Ganteng seperti ini tetapi dalam angan jiwa tua. Tapi
kalau kulitku sudah keriput mana laku diriku. (seperti akan menangis dan
membuka kacamata). Bahkan, semua gadis cantik pun akan meninggalkanku kalo aku
sudah kere…
Dengan kehidupan Globalisasi ini terjadi perubahan. Diriku
yang dulu bukanlah yang sekarang. Terew tew, Kamuuu yang dulu bukanlah yang
sekarang. Mukaaa yang jelek berubah jadi tampan. Tetetetew tew tetew.
Tapi aku mencintai Diriku ! hahaah! Aku mencintai DIRIKU !
(berteriak, kemudian sedih menangis lunglai meninggalkan panggung)
Babak
IV
Penjudi muncul, sambil
menghisap rokok dan membawa botol bir dia berjalan menuju meja judi. Manusia bayangan
sudah ada di sana menyambutnya. Mereka mulai bermain judi. Terdengar gelak
tawa. Beberapa saat kemudian, penjudi tertawa keras…tapi dia menang.
P :
(sambil mInum) inilah hidupku…ha…ha…malam masih panjang, uang masih banyak,
masih bisa dicari…tapi…tapi…ha….ha..kalaupun aku mati di meja ini (mulai sedih)
aku…aku tetap bahagia…(penjudi pun rebah di meja judi). Sebaiknya saya pulang
sekarang…
(Tetapi
, tak disangka – sangka, sesuatu yang buruk menimpa penjudi. Seseorang telah
merampas uang hasil perjudiannya. Istri dan Anaknya telah dibunuh demi uang
itu. Untuk membalaskan dendamnya ia membunuh seorang pejabat yang merupakan Bos
dari orang yang merampas dan membunuh anak istrinya. Ia jatuh Miskin dan
diseret ke meja Pengadilan berkat ulahnya! Sungguh Miris Dunia Ini !!!
Amarahnya)
MB : (Sambil membuang-buang
kartu remi di hadapan penonton dan melempar-lempar botol minuman) Kamu…
seorang Manusia yang hina wahai penjudi. Kasihan dirimu.
(Penjudi dibawa masuk ke dalam oleh manusia
bayangan)
Babak
V
Suasana gelap. Cahaya hanya
tertuju pada meja dite atas. Hakim (H) masuk kedalam ruangan. Sesaat kemudian
terdengar jeritan dan teriakan terdakwa (T) yang diseret masuk oleh MB.
T
:tidak….! aku tidak mau! Lepaskan aku…lepas…! aku tidak bersalah!
H : Diam!
(sambil mengetuk palu) harap tenang!! Sebagai Laki -Laki, seharusnya engkau
bekerja di kantor, menjaga anak-anak dan harta dari jerih payahmu! Bersyukurlah
engkau wahai Penjudi! Engkau masih kami beri keringanan. Kalau tidak engkau
sudah mendekam seumur hidup di penjara. Bersyukurlah engkau TERDAKWA !
T :
(marah) apa? Diam katamu?! Aku ini Duda kere! (menoleh ke penonton)
mereka…mereka para pembesar-pembesar itu yang merampas hartaku…membunuh anak-anak
dan Istriku! Kau suruh aku diam, huh?!
Padahal mereka yang mencabut hak hidupku! Bahkan mereka lebih kejam dari Malaikat
Izroil! Mereka…
H : Diam!
Hentikan! Tetapi engkau tetap bersalah! Engkau telah membunuh orang terpenting
di negeri ini.engkau harus dihukum! Saya telah member keputusan , saya tak akan
mendengarkan bentahan pengacaramu. Pengacaramu pun tak sudi engkau dalam
belaannya Pengawal, masukkan Laki - laki ini ke penjara!
MB datang menyeret Terdakwa (T )keluar dari ruang sidang.
T :
Tidak…lepaskan aku…(menangis) aku tidak bersalah… Mereka jauh lebih bersalah
dari pada Diriku ! Lepaskan… Lepaskan saya …
H : Di
negeri ini, uanglah yang jadi raja.ha…ha… coba saja Laki - laki itu
sanggup membayarku lebih dari keluarga pejabat yang dibunuhnya, pasti akan aku
bebaskan dia. Ha…ha…uang…uang (terus tertawa sampai keluar ruang)
Babak
VI
Muncul sepasang petani, mereka
taampak lelah setelah bekerja di sawah.
PT : Uni panen kito taun ko banyak bana yo ? Bareh kito
besak pulo.
BT : Iyo lah dek, panen
taun iko emang elok nian, lubung bae lah indak muek lagi.
PT : Uni tau dak ? Ado sesuatu yang indak uni tau. Tapi
pernyataan iko agak SECRET tapi Uni jangan Marah pulo yo.
BT : Iyo aman be dek,
Tau apo dek ? (sambil kipas-kipas) Cepek lah ngomong tu Pane hariko. Kulitko
tambah itam gek… Awak lah cantik uni ko, tengok (memuji diri) gek buruk keno
pane
PT : La iyo seh
uni uni ko lah cantik lah we walau muko cak lumpur genang angso, hahaha .Asal
Uni tau yo, Kito ko soko guru ekonomi rakyat yo Uni. Lah kalo indak ado
kito, waii…bisa kolaps rakyat-rakyat negeri iko. Alias death !! Kito kolah
pendukung kek yang ngasih orang kecik tu makan.
BT : Nian
tu dek !…tapi….(dari wajah yang semula gembira, beralih sedih) tapi…kito kok
idak kayo – kayo yo dek ? Uni agak
bingung lah. Kito lah jual hargo tinggi kek orang tapi Miskin tulah kito ko.
Tetep kere.. Indak ado Pitii. Malah jadi kesetnyo tengkulak! Waii…. Parah nian
dek.
PT : iyo yo Uni
tapi Indak papo lah , yang penting kito idak terlalu melarat cak petani yang
lain Uni....
BT : Iyo dek . tapi
Uni masih bingung ngapo kito hidupko terlalu sederhana , petani daerah kito
melarat, Rajo yang ado malah kayo- kayo, yang Korupsi jadi tingkat ate. Rumah
real estate….
PT : Mobilku banyak, harta melimpah Orang
memanggilku, bos eksekutif Tokoh papan atas, atas sgalanya, asik! Wajahku
ku cantik, banyak simpanan Sekali lirik, oh bisa jalan Bisnisku menjagal, jagal apa saja yang penting aku senang, aku
menang Persetan orang susah, karena aku Yang penting asik, sekali lagi, asik! . Udemlah
uni, indak usah dipikirkan panjang – panjang , Tarui kito bekerjo ko. Biar
cepek selesai ni.
BT : Iyo dek ,
TARUI…
(Semua muncul lagi… dan
bernyanyi)
SEMUA : kulihat ibu
pertiwi/ sedang bersusah hati/ air matanya berlinang/ emas intan yang terkenang//
hutan gunung sawah lautan/ simpanan kekayaan/ kini ibu sedang lara/ merintih
dan berdoa///
Kasihan engkau wahai petani
pertiwi…
Babak VII
Seorang dosen muncul sambil
berbicara di telepon terburu-buru. Kemudian masuk kelas dan mulai memberi
kuliah.
D : selamat
pagi mahasiswaku tercinta…mari kita tinggalkan sejenak segala keluh kesah di
luar, kita siapkan hati dan pikiran kita untuk kuliah hari ini. Baik, kalian …sebagai
manusia, janganlah kita skeptis terhadap ilmu. Pandang ilmu itu dengan
objektif, bukan subjektif. Tahu kenapa? Ya…karena ilmu itu logis. Dan jika kita
sudah memahami ini, secara teoritis, terapkan itu secara pragmatis. Kita ini
ini insan berilmu. Bukan sapi, atau monyet! Karena itu, hidup itu harus
berilmu… tenenew tew tenenew tew tenenenenew (dering telepon)
Tiba-tiba telepon dosen
berdering…ternyata dari anaknya.
D : O…maaf.
semuannya…Halo? ya.. anakku sayang…ada apa? O…pesta? berapa? Lima puluh juta?
O..tenang anakku…ibu- mu ini sekarang ini gajinya sudah tiga kali lipat!
Jadi…apa? ya…ya…atur lah semaumu…(terus menelepon sambil meninggalkan panggung)
Ibu yang membiayai semua yang kamu mau , pesan sesukamu,
nanti Ibu yang tanggung. Pergilah besenang –senang . Ibu mencintaimu EMUAH !
D : Baiklah
sampai dimana kita tadi ? (Pikun!)
D : Orang yang
menjelaskan eksistensialisme — pada orang awam — sambil sedikit-sedikit
menyitir Nietzsche, Camus, dan Sartre,
KURANG
LEBIH SAMA DENGAN
Orang yang
menjelaskan Mekanika Kuantum — pada orang awam — sambil sedikit-sedikit
menyebut Efek Casimir dan Percobaan Ashfar. Hanya orang cerdas yang mengerti
kata kata ini.
(MB muncul sambil
membuang-buang buku)
MB : aplikasi teori lebih
dari logika…sampah! ilmu jadi komersil berangka-angka!…seperti ini? Kapan kita
mau pintar? Mau maju? Mau cerdas? Pff…(tertunduk lesu)
(N) : Semua pasti befikir …
Apa maksud Drama ini ? benar bukan ?
Paradoks adalah suatu situasi yang timbul
dari sejumlah premis (apa yang dianggap
benar sebagai landasan kesimpulan kemudian; dasar pemikiran; alasan; (2)
asumsi; (3) kalimat atau proposisi yg dijadikan dasar penarikan kesimpulan di
dl logika), yang diakui kebenarannya yang bertolak dari suatu pernyataan dan
akan tiba pada suatu konflik atau kontradiksi.
Sebuah 'paradoks adalah sebuah pernyataan yang betul atau sekelompok
pernyataan yang menuju ke sebuah kontradiksi atau ke sebuah situasi yang
berlawanan dengan intuisi. Biasanya, baik pernyataan dalam pertanyaan tidak
termasuk kontradiksi, hasil yang membingungkan bukan sebuah kontradiksi, atau
"premis"nya tidak sepenuhnya betul (atau, tidak dapat semuanya
betul). Pengenalan ambiguitas, equivocation, dan perkiraan
yang tak diutarakan di paradoks yang dikenal sering kali menuju ke peningkatan
dalam sains,filsafat, dan matematika. Politik adalah seni dan ilmu untuk meraih
kekuasaan secara konstitusional maupun nonkonstitusional. Sebenarnya sistem
politik yang kita anut sudah bagus, mau sistem partai tunggal atau banyak partai
semuanya sama asal saja para wakil rakyat dan pemerintah memang mau berpihak
kepada kepentingan rakyat dan bangsa. Tapi apa yg kita lihat sekarang......?
Jauh dari yg kita harapkan. Itu merupakan kesimpulan drama yang kami bawakan.
Dari setiap kisah dan seluk beluknya.
Babak VII
(Panggung
kembali gelap. Pemain satu persatu muncul menyanyikan lagu)
(sambil membawa lilin.)
“Panggung Sandiwara”
Semua :
[intro] D G 2x D C A
D G D G
D G D
Dunia ini panggung sandiwara
Em B Em
Ceritanya mudah berubah
F#m B G Gm D G D G
Kisah mahabrata atau tragedi dari yunani
D G D
Setiap kita dapat satu peranan
Em B Em
Yang harus kita mainkan
F#m B G Gm D
Ada peran wajar dan ada peran berpura-pura
C G D
Mengapa kita bersandiwara
C G D
Mengapa kita bersandiwara
Em B7 Em
Peran yang kocak bikin kita terbahak-bahak
F#m C# F#m A
Peran bercinta bikin orang mabuk kepayang
D G
Dunia ini penuh peranan
D G Gm D
Dunia ini bagaikan jembatan kehidupan
C G D
Mengapa kita bersandiwara
C G D
Mengapa kita bersandiwara
[interlude] Em B7 Em
F#m C# F#m A
C G D
Mengapa kita bersandiwara
C G D
Mengapa kita bersandiwara
D G D G
D G D
Dunia ini panggung sandiwara
Em B Em
Ceritanya mudah berubah
F#m B G Gm D G D G
Kisah mahabrata atau tragedi dari yunani
D G D
Setiap kita dapat satu peranan
Em B Em
Yang harus kita mainkan
F#m B G Gm D
Ada peran wajar dan ada peran berpura-pura
C G D
Mengapa kita bersandiwara
C G D
Mengapa kita bersandiwara
Em B7 Em
Peran yang kocak bikin kita terbahak-bahak
F#m C# F#m A
Peran bercinta bikin orang mabuk kepayang
D G
Dunia ini penuh peranan
D G Gm D
Dunia ini bagaikan jembatan kehidupan
C G D
Mengapa kita bersandiwara
C G D
Mengapa kita bersandiwara
[interlude] Em B7 Em
F#m C# F#m A
C G D
Mengapa kita bersandiwara
C G D
Mengapa kita bersandiwara
Tidak ada komentar:
Posting Komentar