Senin, 02 Maret 2015

Drama Musikal Untuk 11 Orang (IX B) SMPN 1 CURUP

KESEDIHAN NEGERI INI !
Terinspirasi dari Cerpen “Bertopeng” karya Antohn Chekov;
Penulis naskah: Ruli & Dian W.N;
Pengubah  Alur Cerita: Dinda Lasri Winarsih
Tema : Sosial Politik

Pemain Drama Musikal :
Narator                                    : Dinda Lasri Winarsih,
Ratu (R)                                   : Izza Aisyah Afifah,
Menteri (M)                             : Fitrah Amalia Ramadhanti,
Pengemis (RM)                        : Fadli Haikal Adzani,
Artis (A)                                 : Arbi Satria Utama,
Penjudi (P),(T)                         : Muhammad Iqbal Hattami,
Hakim (H)                               : Hasbi Hassadiqin,
Petani (PT)                              : Isti Komalia,
Petani (BT)                              : Milda Putri Dinanty,
Dosen (D)                                : Fitri Niarsari,
Manusia bayangan         (MB)           : Rani Aprillia.

__________________________________________________________________
Suasana menggambarkan kegelapan di malam hari. Di tengah terdapat tiang bendera, meja kecil dan kursi-kursi, sekelilingnya dipenuhi tempelan-tempelan topeng kertas.
Babak I
Musik pengantar :     ♪ ~ ♫~ ♪ ~ ♫~ ♪ ~ ♫~♪ ~ ♫~♪ ~ ♫~♪ ~ ♫~♪ ~ ♫
(Semua Pemeran Drama memasuki ruangan, dengan Manusia Bayangan datang paling akhir sambil membawa lilin kemudian menyapa penonton dan saling memperkenalkan diri masing - masing.)
MB      : Selamat(….). Maaf, jika pertemuan ini mungkin tidak saudara terima dengan hangat. Seharusnya saya sudah sejak lama hidup di benak saudara. Membisiki abu-abu hidup ini. Hidup … (diam sejenak seperti menghela nafas). Yang namanya abu, tentu…tidak melulu hitam atau melulu putih. Hitam… putih… hi…hi…(tertawa ngikik) Tapi, sepertinya tenggorokan saya sedang manja. Jadi harap mata dan hati saudara melek untuk melihat satu persatu abu - abu ini.
Babak II
(Semua pemain keluar kecuali yang mepunyai adegan)
Seorang Ratu (R) dan seorang Menterinya (M) Datang…
Musik pengantar : ♪ ~ ♫~ ♪ ~ ♫~ ♪ ~ ♫~♪ ~ ♫~♪ ~ ♫~♪ ~ ♫~♪ ~ ♫
R          : (menyapa penonton dengan bahasa yang medok namun sedikit judes) Selamat malam rakyatku semua… sudah pada tahu kan? Jika negeri kita yang cantik ini, yang luas ini, yang gemah ripah bin jinawi, sebentar lagi akan merayakan ulang tahun … (menoleh ke menteri)
M        : Dengan ini Ratu akan menyiapkan pesta yang sebesar-besarnya. Ratu akan mengundang semua pemimpin-pemimpin  serta artis terkenal, agar mereka tahu, kalau negeri kita ini bisa buat pesta yang sangat meriah melebihi mereka! (berhenti sejenak) Tapi… tunggu Ratu…(Sedikit kebingungan).
R         : Apa ?!! Saya tidak mau mendengar ada masalah ! jikalau ada segera selesai-kan secepat mungkin tanpa menimbulkan perdebatan !
M         : (membuka-buka buku kas) ehm… saya tenang kok Ratu, saya hanya berpikir sejenak. Kas kita masih banyak untuk menyelenggarakan pesta. Tambang minyak di pulau Bekas Jiwa, tembaga di pulau Paru Sesak, emas di pulau Goa Ketan, terus…(Keburu distop ratu).
R          : cukup…cukup…cukup. ya, ya..kalau begitu, menteri, segera siapkan pestanya…
M        : Baik Ratu, pesta akan segera disiapkan dalam 3 hari tanpa henti.

Tiba-tiba dari belakang keduanya, tampak  Pengemis (RM) menurunkan bendera kerajaan. Lalu dengan sigap ia memasukkannya kedalam tas. Kemudian tampak berjalan terburu-buru sehingga lewat di depan Ratu dan Menteri tanpa permisi dan merunduk.
R          : e…e…eh…tidak sopan! Lewat di depan ratunya kok main selonong aja! Berhenti kamu!
M        : Berhenti kamu Pengemis ! Rakyat Jelata! STOOOP !!!  .... (Menunjuk pengemis)
RM     : Stop Kau mencuriii hatikuu hatikuuuu…. (menoleh) saya?
R         : Iya kamu! (memperhatikan tas) bawa apa itu?
RM     : Oh, bukan apa-apa Ratu! Saya hanya…(menyembunyikan tas di balik punggung) Saya ingin pulang Ratu, permisi…(merunduk)
R         : Menteri, periksa orang itu!
M        : Baik Ratu. Hei ! kemari kau pngemis ! (Mengejar pengemis.)
Terjadi perebutan tas antara menteri dan Rakyat Miskin itu. Tetapi menteri berhasil merebut tas pengemis. Sampai-sampai pengemis jatuh tersungkur.
M         : Ratu, ini Ratu…ternyata dia mencuri bisa dikatakan nyolong  bendera kerajaan, Ratu!
R          : lho…lho…nyolong bendera?! lah kok bisa gak ketahuan ini gimana ? Memangnya apa kerja para budak penjaga itu sih ? mau kamu buat apa bendera yang kamu curi? (mendekati pengemis)
RM       : lapar…saya lapar… itu…mau saya jual…lima ribu jadi… susah hidup di negeri ini. Saya hidup selama bertahun tahun SENDIRIAN (bersenandung) Makan makan sendiri, Tidur tidur sendiri makan tidur makan tidur makan tiduuur pun sen…diri (berkelakuan seperti bermain gitar)
R          : Whaaat ? bruuh ! Dijual?! Oh…rakyatku…(bernada kasihan) kamu lapar?
RM       : (Pengemis mengangguk) iya, saya lapar Ratu. Saya ingin membeli makanan …
R          : oh…lapar…tetapi bendera itu jangan kamu jual, karena itu adalah bendera negeri ini. Sekarang kamu pulang ke rumah, biar nanti kusuruh orang mengantar makanan ke tempatmu.
RM     : Thanks Ratu .(pergi meninggalkan panggung)
(Manusia Bayangan muncul memapah pengemis.)
(music pengiring) : ♪ ~ ♫~ ♪ ~ ♫~ ♪ ~ ♫~♪ ~ ♫~♪ ~ ♫~♪ ~ ♫~♪ ~ ♫
(Ratu dan menteri maju ke tengah panggung bercakap- cakap.)
MB      : Seperti ini sosok sejati dari bangsa yang kaya? (bernada sinis) bahkan seandainya burung hantupun tak sudi menjamahnya.
R          : (berbicara pada menteri) minta makan ??!Tak sudi saya mengantar makanan itu kerumahnya, alamat rumah pun tak saya tanya hahaha. Uang saja tidak punya , hari ini masih gratisan…huh! menteri kita kembali saja ke kerajaan. (meninggalkan panggung)
M        : Tentu Ratu, seharusnya pengemis itu menjadi budak pabrik kita ! Agar KITA bisa bertambah makmur nan kaya raya lebih dari ini. Mereka seharusnya bersyukur kepada kita. KITA… Orang terkemuka di negeri ini. Tapi apalah daya, Ratu terlalu BAIK HATI.
Babak III
Musik pengantar; ♪ ~ ♫~ ♪ ~ ♫~ ♪ ~ ♫~♪ ~ ♫~♪ ~ ♫~♪ ~ ♫~♪ ~ ♫
(Artis (A) muncul dengan gaya seleb dan tebar pesona.)
A         : Ini sih, memang bukan panggung Hollywood! Tapi, tak apalah ini cukup memuaskan sekaligus menyedihkan … baiklah , sini-sini… siapa yang mau minta tanda tangan artis ganteng kayak saya ? Mau foto-foto sama saya ? kemari- kemari… Dekati diriku…
Semua pemeran mengerumuni Artis kecuali pemeran artis.
Semua :
(Rany) Orang tua kakak tajir ya ? (Hasbi) Kakak udah punya pacar ? (Iqbal) atau kakak jomblo ? (Fadli) kakak kan ganteng , masa jomblo ? (Fitrah)Kakak gajinya berapa ? (Milda)kakak gak berniat masuk ke politik ? (Esa) iya, Politik itu keren lo ! (Fitri) Korupsi 2 milyar aja Cuma masuk 2 bulan penjara. (jawab satu persatu oleh Artis) (Isti) Pertanyaan terakhir, bagaimana kehidupan kakak selama ini?
(Artis masih tetap ceria, tetapi kemudian artis mulai curhat)
A         : Hidupku ini sungguh menyenangkan saudara sekalian. Shooting sana-sini…ikut pesta ini-itu… shopping kemana-mana…Pfff (menghela nafas) tapi…, ehm… mungkin tak sampai lima puluh tahun, saya akan tetap Ganteng  seperti ini tetapi dalam angan jiwa tua. Tapi kalau kulitku sudah keriput mana laku diriku. (seperti akan menangis dan membuka kacamata). Bahkan, semua gadis cantik pun akan meninggalkanku kalo aku sudah kere…
Dengan kehidupan Globalisasi ini terjadi perubahan. Diriku yang dulu bukanlah yang sekarang. Terew tew, Kamuuu yang dulu bukanlah yang sekarang. Mukaaa yang jelek berubah jadi tampan. Tetetetew tew tetew.
Tapi aku mencintai Diriku ! hahaah! Aku mencintai DIRIKU ! (berteriak, kemudian sedih menangis lunglai meninggalkan panggung)
Babak IV
Penjudi muncul, sambil menghisap rokok dan membawa botol bir dia berjalan menuju meja judi. Manusia bayangan sudah ada di sana menyambutnya. Mereka mulai bermain judi. Terdengar gelak tawa. Beberapa saat kemudian, penjudi tertawa keras…tapi dia menang.
P          : (sambil mInum) inilah hidupku…ha…ha…malam masih panjang, uang masih banyak, masih bisa dicari…tapi…tapi…ha….ha..kalaupun aku mati di meja ini (mulai sedih) aku…aku tetap bahagia…(penjudi pun rebah di meja judi). Sebaiknya saya pulang sekarang…
(Tetapi , tak disangka – sangka, sesuatu yang buruk menimpa penjudi. Seseorang telah merampas uang hasil perjudiannya. Istri dan Anaknya telah dibunuh demi uang itu. Untuk membalaskan dendamnya ia membunuh seorang pejabat yang merupakan Bos dari orang yang merampas dan membunuh anak istrinya. Ia jatuh Miskin dan diseret ke meja Pengadilan berkat ulahnya! Sungguh Miris Dunia Ini !!! Amarahnya)
MB      : (Sambil membuang-buang kartu remi di hadapan penonton dan melempar-lempar botol minuman) Kamu… seorang Manusia yang hina wahai penjudi. Kasihan dirimu.
 (Penjudi dibawa masuk ke dalam oleh manusia bayangan)
Babak V
Suasana gelap. Cahaya hanya tertuju pada meja dite atas. Hakim (H) masuk kedalam ruangan. Sesaat kemudian terdengar jeritan dan teriakan terdakwa (T) yang diseret masuk oleh MB.
T          :tidak….! aku tidak mau! Lepaskan aku…lepas…! aku tidak bersalah!
H         : Diam! (sambil mengetuk palu) harap tenang!! Sebagai Laki -Laki, seharusnya engkau bekerja di kantor, menjaga anak-anak dan harta dari jerih payahmu! Bersyukurlah engkau wahai Penjudi! Engkau masih kami beri keringanan. Kalau tidak engkau sudah mendekam seumur hidup di penjara. Bersyukurlah engkau TERDAKWA !
T          : (marah) apa? Diam katamu?! Aku ini Duda kere! (menoleh ke penonton) mereka…mereka para pembesar-pembesar itu yang merampas hartaku…membunuh anak-anak dan Istriku! Kau suruh aku  diam, huh?! Padahal mereka yang mencabut hak hidupku! Bahkan mereka lebih kejam dari Malaikat Izroil! Mereka…
H         : Diam! Hentikan! Tetapi engkau tetap bersalah! Engkau telah membunuh orang terpenting di negeri ini.engkau harus dihukum! Saya telah member keputusan , saya tak akan mendengarkan bentahan pengacaramu. Pengacaramu pun tak sudi engkau dalam belaannya Pengawal, masukkan Laki - laki ini ke penjara!
MB datang menyeret Terdakwa (T )keluar dari ruang sidang.
T          : Tidak…lepaskan aku…(menangis) aku tidak bersalah… Mereka jauh lebih bersalah dari pada Diriku ! Lepaskan… Lepaskan saya …
H         : Di negeri ini, uanglah yang jadi raja.ha…ha… coba saja Laki - laki itu sanggup membayarku lebih dari keluarga pejabat yang dibunuhnya, pasti akan aku bebaskan dia. Ha…ha…uang…uang  (terus tertawa sampai keluar ruang)
Babak VI
Muncul sepasang petani, mereka taampak lelah setelah bekerja di sawah.
PT        : Uni  panen kito taun ko banyak bana yo ? Bareh kito besak pulo.
BT       : Iyo lah dek, panen taun iko emang elok nian, lubung bae lah indak muek lagi.
PT        : Uni  tau dak ? Ado sesuatu yang indak uni tau. Tapi pernyataan iko agak SECRET  tapi  Uni jangan Marah pulo yo.
BT       : Iyo aman be dek, Tau apo dek ? (sambil kipas-kipas) Cepek lah ngomong tu Pane hariko. Kulitko tambah itam gek… Awak lah cantik uni ko, tengok (memuji diri) gek buruk keno pane
PT        : La iyo seh uni uni ko lah cantik lah we walau muko cak lumpur genang angso, hahaha .Asal Uni tau yo, Kito ko soko guru ekonomi rakyat yo Uni.  Lah kalo indak ado kito, waii…bisa kolaps rakyat-rakyat negeri iko. Alias death !! Kito kolah pendukung kek yang ngasih orang kecik tu makan.
BT         : Nian tu dek !…tapi….(dari wajah yang semula gembira, beralih sedih) tapi…kito kok idak  kayo – kayo yo dek ? Uni agak bingung lah. Kito lah jual hargo tinggi kek orang tapi Miskin tulah kito ko. Tetep kere.. Indak ado Pitii. Malah jadi kesetnyo tengkulak! Waii…. Parah nian dek.
PT        : iyo yo Uni tapi Indak papo lah , yang penting kito idak terlalu melarat cak petani yang lain Uni....
BT       : Iyo dek . tapi Uni masih bingung ngapo kito hidupko terlalu sederhana , petani daerah kito melarat, Rajo yang ado malah kayo- kayo, yang Korupsi jadi tingkat ate. Rumah real estate….
PT       :  Mobilku banyak, harta melimpah Orang memanggilku, bos eksekutif Tokoh papan atas, atas sgalanya, asik! Wajahku ku cantik, banyak simpanan Sekali lirik, oh bisa jalan Bisnisku menjagal, jagal apa saja yang penting aku senang, aku menang Persetan orang susah, karena aku Yang penting asik, sekali lagi, asik! . Udemlah uni, indak usah dipikirkan panjang – panjang , Tarui kito bekerjo ko. Biar cepek selesai ni.
BT       : Iyo dek , TARUI…
(Semua muncul lagi… dan bernyanyi)
SEMUA      : kulihat ibu pertiwi/ sedang bersusah hati/ air matanya berlinang/ emas intan yang terkenang// hutan gunung sawah lautan/ simpanan kekayaan/ kini ibu sedang lara/ merintih dan berdoa///
Kasihan engkau wahai petani pertiwi…


Babak VII
Seorang dosen muncul sambil berbicara di telepon terburu-buru. Kemudian masuk kelas dan mulai memberi kuliah.
D         : selamat pagi mahasiswaku tercinta…mari kita tinggalkan sejenak segala keluh kesah di luar, kita siapkan hati dan pikiran kita untuk kuliah hari ini. Baik, kalian …sebagai manusia, janganlah kita skeptis terhadap ilmu. Pandang ilmu itu dengan objektif, bukan subjektif. Tahu kenapa? Ya…karena ilmu itu logis. Dan jika kita sudah memahami ini, secara teoritis, terapkan itu secara pragmatis. Kita ini ini insan berilmu. Bukan sapi, atau monyet! Karena itu, hidup itu harus berilmu… tenenew tew tenenew tew tenenenenew (dering telepon)
Tiba-tiba telepon dosen berdering…ternyata dari anaknya.
D         : O…maaf. semuannya…Halo? ya.. anakku sayang…ada apa? O…pesta? berapa? Lima puluh juta? O..tenang anakku…ibu- mu ini sekarang ini gajinya sudah tiga kali lipat! Jadi…apa? ya…ya…atur lah semaumu…(terus menelepon sambil meninggalkan panggung)
Ibu yang membiayai semua yang kamu mau , pesan sesukamu, nanti Ibu yang tanggung. Pergilah besenang –senang . Ibu mencintaimu EMUAH !
D         : Baiklah sampai dimana kita tadi ?                        (Pikun!)
D         :  Orang yang menjelaskan eksistensialisme — pada orang awam — sambil sedikit-sedikit menyitir Nietzsche, Camus, dan Sartre,
KURANG LEBIH SAMA DENGAN
Orang yang menjelaskan Mekanika Kuantum — pada orang awam — sambil sedikit-sedikit menyebut Efek Casimir dan Percobaan Ashfar. Hanya orang cerdas yang mengerti kata kata ini.


(MB muncul sambil membuang-buang buku)

MB      : aplikasi teori lebih dari logika…sampah! ilmu jadi komersil berangka-angka!…seperti ini? Kapan kita mau pintar? Mau maju? Mau cerdas? Pff…(tertunduk lesu)






(N)     :  Semua pasti befikir … Apa maksud Drama ini ? benar bukan ?
Paradoks adalah suatu situasi yang timbul dari sejumlah premis (apa yang dianggap benar sebagai landasan kesimpulan kemudian; dasar pemikiran; alasan; (2) asumsi; (3) kalimat atau proposisi yg dijadikan dasar penarikan kesimpulan di dl logika), yang diakui kebenarannya yang bertolak dari suatu pernyataan dan akan tiba pada suatu konflik atau kontradiksi.
Sebuah 'paradoks adalah sebuah pernyataan yang betul atau sekelompok pernyataan yang menuju ke sebuah kontradiksi atau ke sebuah situasi yang berlawanan dengan intuisi. Biasanya, baik pernyataan dalam pertanyaan tidak termasuk kontradiksi, hasil yang membingungkan bukan sebuah kontradiksi, atau "premis"nya tidak sepenuhnya betul (atau, tidak dapat semuanya betul). Pengenalan ambiguitas, equivocation, dan perkiraan yang tak diutarakan di paradoks yang dikenal sering kali menuju ke peningkatan dalam sains,filsafat, dan matematika. Politik adalah seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusional maupun nonkonstitusional.  Sebenarnya sistem politik yang kita anut sudah bagus, mau sistem partai tunggal atau banyak partai semuanya sama asal saja para wakil rakyat dan pemerintah memang mau berpihak kepada kepentingan rakyat dan bangsa. Tapi apa yg kita lihat sekarang......? Jauh dari yg kita harapkan. Itu merupakan kesimpulan drama yang kami bawakan. Dari setiap kisah dan seluk beluknya.

Babak VII
(Panggung kembali gelap. Pemain satu persatu muncul menyanyikan lagu)
 (sambil membawa lilin.)





“Panggung Sandiwara”
Semua  : 

[intro] D G 2x D C A 
        
D G D G 

D      G      D 
Dunia ini panggung sandiwara 
    
Em    B         Em 
Ceritanya mudah berubah 
F#m       B      G           Gm       D G D G 
Kisah mahabrata atau tragedi dari yunani 

D        G        D 
Setiap kita dapat satu peranan 
       
Em  B        Em 
Yang harus kita mainkan 
F#m       B         G         Gm        D 
Ada peran wajar dan ada peran berpura-pura 

        
C    G         D 
Mengapa kita bersandiwara 
        
C    G         D 
Mengapa kita bersandiwara 

Em                 B7       Em 
Peran yang kocak bikin kita terbahak-bahak 
F#m              C#        F#m       A 
Peran bercinta bikin orang mabuk kepayang 

      
D   G 
Dunia ini penuh peranan 
      
D     G           Gm        D 
Dunia ini bagaikan jembatan kehidupan 

        
C    G         D 
Mengapa kita bersandiwara 
        
C    G         D 
Mengapa kita bersandiwara 


[interlude] 
Em B7 Em 
            
F#m C# F#m A 


        
C    G         D 
Mengapa kita bersandiwara 
        
C    G         D 
Mengapa kita bersandiwara

Tidak ada komentar:

Posting Komentar